7 Alasan Sedih Meninggalkan Perantauan

7 Alasan Sedih Meninggalkan Perantauan

Merantau jadi di antara fase sangat krusial anak muda sepertimu. Entah merantau guna meneruskan edukasi atau sebab kewajiban sebuah pekerjaan. Awal merantau anda sempat menangis sebab memang berat rasanya hidup terpisah dari ayah, ibu serta kakak dan adikmu. Tapi setelah sejumlah waktu hidup di perantauan seorang diri, anda baru menyadari bahwa merantau tak sepahit bayanganmu. Di perantauan anda menemukan teman-teman baru, lingkungan yang bertolak belakang dan seseorang yang sekarang menjadi tambatan hati.

Setelah betahun-tahun merantau, terdapat saatnya anda harus pulang ke dusun halaman. Entah sebab pendidikanmu sudah berlalu atau memang pekerjaan mewajibkan untuk kembali. Saat bakal meninggalkan tanah rantau, malah sedihmu berlipat ganda. Air matamu bahkan tak dapat dibendung lagi, menurut Agen Judi Online Terbesar Terpercaya Di Asia  sampai arsip perpisahanmu dengan semua sahabat mengindikasikan mimik mukamu sembab sendiri. Buat anda yang merasa lebih sedih ketika meninggalkan perantauan, barangkali alasan-alasan inilah yang mendasari.

1. Perantauan tempat menikmati hidup yang sesunggunya. Tangis, tawa, dan kecewa, semuanya seimbang anda rasakan dari sana

7 Alasan Sedih Meninggalkan Perantauan

7 Alasan Sedih Meninggalkan Perantauan

Sebelum anda merantau, anda pasti menginginkan tentang susahnya hidup terpisah dengan keluarga. Dari perihal lokasi tinggal, makanan, hingga persolan menyiapkan keperluan pribadi yang mesti dilaksanakan sendiri. Dan di mula semua urusan tadi jelas terasa sulit. Tapi kendala mengajarkanmu hidup yang sesungguhnya. Tangis, tawa, bahkan rasa kecewa jadi terasa lebih bermakna dan seimbang. Setidaknya semua tersebut membuat hidupmu lebih berkembang. Wajar bila kamu juga tak rela melepas semua empiris yang berarti itu.

2. Rasa nyaman dengan lokasi tinggal kedua yang telah terlanjur dalam juga membuatmu sedih bila harus beranjak lagi

 

Waktu yang anda habiskan sekitar di perantauan tidak sebentar. Selama masa-masa tahunan tersebut kamupun mulai memupuk rasa nyaman guna hidup di perantauan. Dari yang tadinya tak betah, pelan-pelan anda pun belajar menyesuaikan diri. Sampai akhirnya anda mulai nyaman membaur bareng lingkungan dan orang-orang yang punya tradisi ataupun kebiasaan yang bertolak belakang denganmu. Sampai anda tak kuasa menitikkan air mata ketika tanah rantau yang telah jadi lokasi tinggal kedua ini ditinggalkan.

Meski hati belum inginkan pergi, tapi fakta lebih punya kuasa guna menggerakkan kaki.

3. Sahabat yang sama-sama berusaha di perantauan, yang kadang lebih terasa sebagai saudara sebab susah dan senang dijalani bersama

 

Sahabat tak melulu seseorang yang mengertimu luar dalam, tapi pun mampu buat hatimu nyaman sekalipun nasihatnya kadang pedas guna didengar. Sementara kawan tak melulu mereka yang anda kenal semenjak masa kanak-kanak, namun siapapun yang dapat diajak berbagi, saling memenuhi dan berbenah diri. Langkah kakimu semakin berat ketika harus berjarak dengan kawan yang nyaris tiap hari selalu bareng ini. Meski baru sejumlah tahun bersama, namun ikatan yang terjalin sudah lumayan kuat guna buatmu tegar menghadapi kerasnya dunia.